Kemanakah kan beranjak jejak-jejak itu…?!

Catatan perjalanan kehidupan hingga saat ini, telah meninggalkan jejak-jejak pembelajaran yang begitu berharga untuk arah perjalanan berikutnya. Begitu banyak peristiwa dan kejadian selama setahun terakhir yang seolah berkelebat begitu saja. Tanpa terasa, saat ini aku kembali ditegur, diingatkan oleh sang waktu. Karena kita semua tak pernah tahu, tinggal berapa lama waktu yang tersisa untuk kita di dunia, dan kapan perjalanan kehidupan ini akan berakhir.

“Dua macam kenikmatan yang kebanyakan manusia dapat tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu kosong atau terluang (libur)”. (H.R. Bukhari)

Kiranya benarlah, bahwa kenikmatan kesehatan dan waktu yang saat ini kita miliki memang harus digunakan dengan sebaik-baiknya, diisi dengan kemanfaatan dan kebaikan, untuk menggapai keridhoan Alloh SWT. Namun, seringkali kita lupa, terlena dengan waktu yang kita punya, sehingga menggunakannya dengan aktivitas penuh kesia-siaan tanpa manfaat, bahkan cenderung bermaksiat. Na’udzubillahi min dzalik, semoga kita semua dijauhkan dari hal itu.

Sejatinya, esensi setiap refleksi perjalanan kehidupan adalah seberapa besar dan seberapa jauh persiapan yang telah kita lakukan untuk menghadap Robbul ‘Alamin dengan sisa waktu yang ada. Proses perbaikan diri tentu menjadi suatu keniscayaan, karena esok harus lebih baik dari sekarang, agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Aku sangat menyadari, bahwa kenikmatan dan keberkahan yang telah Alloh berikan seringkali aku salah gunakan. Rasa syukur yang seharusnya senantiasa aku ucapkan malah digantikan dengan ucapan rasa sesal, keluh dan kesah yang tak dapat dipungkiri seringkali menghinggapi hati ini. Sesungguhnya itu merupakan salah satu ujian keimanan yang Alloh berikan. Astagfirulloh, semoga kita semua diampuni oleh Alloh SWT.

Berbagai rekayasa pembelajaran yang telah diberikan oleh Alloh, membuat aku harus semakin dewasa dalam bersikap dan bertindak. Momentum-momentum strategis, pengalaman-pengalaman berharga, kejutan-kejutan yang telah dilalui, serta keadaan-keadaan fluktuatif yang aku hadapi, menjadi bagian dari proses kematangan dan kedewasaan seseorang.

Impian dan harapanku yang belum terwujud tentu menjadi target yang harus segera dicapai. Idealnya semua itu tentu harus dimulai dengan niat yang lurus, melalui ikhtiar atau usaha yang dilakukan dengan seoptimal mungkin, sehingga dapat mencapai hasil yang terbaik seperti yang diharapkan. Akan tetapi terkadang rasa pesimis dan ketakutan yang menghiasi perjalanan begitu sulit dihadapi. Tak pelak, cukup menghambat bahkan membelokkan arah perjalanan. Maka aku membutuhkan imunitas diri, dan mentalitas sebagai petarung sejati (true fighter).

Asa dalam dada ini masih menghembuskan rasa optimis dan semangat untuk menyambut esok yang berisikan pancaran cahaya harapan penuh dengan kegemilangan. Maka dengan segenap tekad, semangat, kemampuan, kekurangan dan keterbatasan yang aku miliki, mari sambut harapan itu dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. Ingatlah, bangsa dan umat tengah menunggu kontribusi dan kemanfaatan apa yang dapat kita berikan.

Lalu, kemanakah kan beranjak jejak-jejak itu…?!

Wallohu a’lam bis showwab.

Purwokerto, 20 Mei 2012

Ismail Muhammad Syahid

(20/05/1989 – 20/05/2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s