Gabah

Bus pariwisata itu berhenti sekitar 5 kilometer sebelum memasuki sebuah tempat wisata di kota Purwokerto. Rupanya bus itu sedang mengalami sedikit masalah dengan bannya. Para penumpang yang kebanyakan adalah mahasiswa merasa kesal karena bus berhenti di tengah sawah. Mereka mulai mencari hiburan dengan menikmati hamparan padi menguning yang disana-sini mulai dipanen.

Tidak jauh dari tempat bus berhenti, tampak sepasang petani tua yang sedang sibuk merontokkan gabah dari bulir-bulir di atas alat tikar plastik yang lebar. Si suami yang membanting-banting jerami dan istrinya bertugas menghimpun gabah yang berserakan. Perempuan tua yang lusuh itu bekerja seksama. Tiap butir gabah yang tercecer dipungutnya. Tiap sempalan bulir padi yang terlempar dipungutnya kembali. Sepasang petani itu sadar, gabah adalah lagu, sekaligus perjuangan hidup. Sejak anak-anak mereka merasakan betapa tenaga, pikiran, waktu dan biaya harus dikeluarkan untuk menghasilkan sebutir gabah.

Untuk sebutir gabah mereka harus pandai-pandai menyantuni tanah, air, bahkan angin. Mereka juga harus berjuang keras melawan hama dan penyakit padi. Sesudah itu mereka harus pula pandai mengambil manfaat sinar matahari untuk mengeringkan gabah. Atau bila terjadi hujan berkepanjangan pada waktu panen, alamat gabah jadi kecambah dan gagal dinikmati oleh petani.

Maka sebutir gabah adalah perjuangan keras dan panjang, yang seringkali menjadi taruhan kejam bagi seorang petani. Jadi sungguh bisa dimengerti mengapa perempuan tua itu demikian telaten memunguti butir-butir gabah yang tercecer. Dia tidak tahu sesuatu yang ironis terjadi kemudian. Yakni ketika seorang mahasiswa membuang sekotak nasi sisa hanya beberapa meter dari sepasang petani tua itu. Nasi itu bertaburan di pinggir jalan raya, dan didekatnya butir-butir gabah sedang dipunguti dengan penuh penghayatan dan pengertian betapa keringat harus menetes untuk kehadiran sebutir gabah.

Ketelatenan memunguti gabah yang tercecer serta mudahnya orang mencampakkan nasi sisa mungkin hanya bisa dianggap sebuah ironi kecil dan tak pernah mendapat perhatian orang. Namun persoalannya menjadi lain bila peristiwa seperti itu sesungguhnya merupakan sebuah bukti kecil atas sesuatu yang sangat besar dan mendasar. Yakni kecongkakan sosial atas jerih payah petani, atau kecongkakan masyarakat atas keberadaan para petani sendiri. Para petani harus ada dan mereka harus menghasilkan gabah. Namun soal penghargaan atas jasanya menopang kehidupan bersama ini adalah perkara lain, perkara yang sudah terlalu lama disepelekan orang bahkan pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s